Sabtu, 04 September 2010

Bintang

Di gelap nya hari, waktu jam tangan ku menunjukan pukul 9 malam, sudah begitu larut untuk anak seumur ku hanya berdiam diri depan televisi menonton acara yang tidak bermakna, dan penuh dengan komersilitas. Aku menunggu telefon genggam ku berdering, menunggu kekasih ku yang sangat menjengkel kan itu menelfon ku dan menyapa ku dengan hangat nya. 15 menit aku menunggu telfon dari nya, namun tak ada kabar sedikit pun seperti layang – layang yang putus ketika sudah bisa di terbangkan dengan mulus. Aku pun gelisah, gerah rasanya tidak mendengar suara nya, walaupun hanya di telfon. “Kamu dimana?, seharian ini tidak menelfon ku?, kabari aku ya!..” aku beri dia pesan singkat, lewat telfon genggam ku. Dan lewat sejam kabar itu tak kunjung datang, kegelisah an ku, membuat aku takut di tinggal kan nya, dan aku mengurung kan niat ku untuk bercengkrama dengan kasur dan selimut tebal ku. “Sayang kamu dimana?, telfon aku dong! Maaf ya hari ini, aku marah – marah sama kamu, aku kan cuman kangen, tapi kamu gak kabarin aku..” lalu ku beri dia pesan singkat ke dua yang penuh dengan harapan, 20 menit kemudian, air mata ku pun terjatuh tanpa alasan, aku hanya kangen sepertinya, tapi tidak pernah seperti ini. Mendadak saja suasana hati ku hitam, dan di ambang lautan pedih. “Sepertinya kamu memang sudah lupa pada ku ya? Aku sudah seperti wanita – wanita yang kamu permain kan hati nya.. aku benci kamu!”, ku beri dia pesan singkat ke tiga. Lama kemudia waktu berubah, suasana hati ku pada nya pun berubah, tiba – tiba saja aku benci dia, benci sekali dengan dia. Aku hanya benci suasana sunyi ini tanpa nya, aku hanya butuh dia mendengarkan ocehan – ocehan ku, dan aku hanya ingin dengar dia mengatakan cinta pada ku malam ini. Hanya itu kok.. tapi seperti nya dia memang sudah tidak peduli dengan ku, padahal aku selalu ada buat nya, kenapa ya? Apa aku kurang cantik? Apa bibir ku kurang baik untuk bisa berciuman dengan hangat dengan nya?. Dasar laki – laki memang membigung kan. Langit sangat indah ku lihat dari jendela, semakin luas lagi kulihat beranda – beranda bintang menyinari kegelapan ini, lalu angin meniup awan itu dan menutupi bintang – bintang dan bulan pun tertidur pulas, mendung.. ya mendung! Sial! Gaduh dari langit, pasti geledek deh.. kilat pun lewat dengan cepat nya, begitu saja lewat. Dan air – air kesedihan itu pun turun ke dinding pipi dan lama – lama jatuh ke genting rumah ku.. Hujan.. Apa kekasih ku, kehujanan ya? Sudah makan belum ya dia?, ini pasti dingin sekali di luar sana, apalagi dia suka gak bawa jaket.. ah aku gelisah tentang nya, atau dia sedang meneduh ya sekarang? Tapi kenapa dia tidak balas pesan ku?, apa dia tidak rindu pada ku?.. Aku harus pergi, aku tidak tahan kalau seperti ini, hati ku seperti langit di luar sana yang kedinginan, aku sangat takut, tanpa terang ini, aku ingin lihat keadaan nya.. aku akan tunggu di rumah nya. Lalu aku pun memesan taxi terbaik di kota ini, berharap dapat mengantar ku secepat kilat ke rumah kekasih ku, agar aku dapat bertemu dengan nya segera. Di jalan ku tidak lihat aktifitas sama sekali, orang – orang seperti nya sudah tidur dan sudah tandas ke alam mimpi. Ku lihat jam tangan ku menunjukan pukul 2 dini hari, oh sudah jam segini, untung aku bawa baju agar aku bisa menginap di rumah kekasih ku. 20 menit perjalanan berlangsung, aku pun tiba di rumah nya, aku lihat dari kaca mobil taxi ini, rumah nya di penuhi keluarga dan teman teman nya, apa dia sedang mengadakan pesta? Tapi kenapa tidak mengundang ku?.. aku semakin di bingungkan oleh keadaan ini, kenapa dia bisa seenak nya melupakan ku? Padahal aku di rumah sendiri menunggu telfon nya. Telfon genggam ku berbunyi dan menandakan ada pesan yang terkirim, dan itu dari kekasih ku. Dan di situ ia berkata “tunggu aku, sebentar lagi aku telfon kamu”, dan aku langsung turun dari mobil dan berlari dari hujan ke teras rumah nya. Ku lihat banyak keluarga dan teman – temannya dalam suasana yang pedih, paras wajah nya seperti tidak sedang berpesta, makanan pun tidak ada, hanya ada jeritan dari ibu kekasih ku. Aku pun semakin bingung, tiba – tiba saja, suasana hati ku berubah semakin kelam, aku rindu bintang itu, aku ingin memeluk bintang itu dan aku menangis, air mata itu menjalar lebih cepat ke dinding pipi wajah ku, padahal aku tidak tahu apa yang terjadi. Lalu kulihat tubuh kekasih ku terbujur kaku, di lantai berselimut selendang batik, wajah nya penuh luka, dan tubuh nya basah seperti habis hujan hujan an. Tangisan ini semakin menjalar tak ada henti ketika melihat kejadian itu, lautan kesedihan itu seperti sedang siap untuk melontar kan ombak kepedihan itu, aku pun berteriak.. “Bintang! Ada apa dengannya? Ada apa!..” tak seorang pun menjawab, malah seorang temannya menarik ku dan menggotong ku kekamar, dan sekujur kaki lemas sekali seperti ingin pingsan. Ternyata bintang pergi meninggal kan ku, dia lebih dulu pergi tanpa meninggal kan apa pun untuk ku, aku pun tidak yakin dia masih cinta pada ku atau tidak. Tapi seperti nya, cinta itu memang selalu indah ada nya, namun kenapa cinta itu tidak pernah indah selamanya?.. aku bertanya tanya sendiri pada hati ku. Aku benci saat ini, aku hanya ingin mencium mulut nya yang bau bir hitam itu, aku rindu pada ocehan ocehan nya yang terkesan menggurui ku. Aku berusaha untuk tenang, dan menerima ini dengan lapan dada, memang ini lah saat nya dia untuk pergi, aku tidak bisa memaksakan semua ini, sekali lagi aku dipaksa percaya pada keadaan yang membuat hati ku pedih ini. Lalu aku membaca pesan terakhir dari kekasih ku pada pagi hari kemarin, dan dia berkata “sayang sesuatu itu tidak ada yang abadi, coba ada.. mungkin aku hanya ingin terus abadi mencintai mu, hari ini aku lembur ada rapat, kamu jangan lupa makan ya!.. aku sayang kamu”, dan angin pun menghempas kuping ku, dan tangis an kepedihan ini berubah menjadi tangisan gembira akan pesan pesannya. Dan aku semakin mencintai nya pada hari ini, tak lepas dari itu. Ini menjadi titik awal bagi ku untuk menjalani hari yang baru tanpa diri nya.

Kamis, 05 Agustus 2010

Senyum Melati

Di loteng rumah ku, berserakan memori – memori ku dengan nya. Aku sedang asik melihat foto anak lelaki semata wayang yang ku miliki sedang di gendong dengan sangat lembut, yang sekarang sudah besar dan menjadi insinyur pertanian di salah satu kota di negara Kina.
Oh kekasih ku sangat rindu pada mu, hanya senyum mu yang buat diri ku kuat menjalani hari – hari ku yang penuh rintangan ini. Oh kekasih ku, burung pun akan bernyanyi gembira jika mereka lihat wajah mu. Sempat pupus kepercayaan ku oleh segala ketidak adilan ini, namun nafas mu bertending halus di kuping ku, serayak itu sebuah pahit yang harus kuterima dengan melapang kan dada. Mati sudah mekar bunga dalam hati ku ini, saat ku ingat kamu hati serasa ingin menyusul mu ke alam bidadari. Namun apa kamu sedang bersama bidadari di sana sayang?, apa di sana lebih indah tanpa ku?. Oh tuhan bantu lah kuat kan tubuh dan hati ku yang renta akan kesalah pahaman ini.
Sempat ku tak tahan diri, dan ku mengunci diri dalam hati yang sepi, di hati ku bertanya, “kapan aku mati?”.. aku sedang ingin bertemu dengan mu. Gema mu beralun alun, mengajak aku untuk menari dalam nada nada itu. Tapi ini sudah rencana dari si pembuat nasib, aku hanya bisa berkata “terimakasih atas pemberian mu, ini memang sudah jalan ku”..
Lalu aku mengingat lagi masa – masa awal perkenalan kita dulu, kita masih malu – malu. Aku ingat kamu duduk sedang pilu, sambil memerhatikan bunga anggrek di taman. Lalu aku sedang asyik sendiri dari kejauhan memerhatikan senyuman mu. Oh indah sekali dirimu, seperti bunga cosmos yang sudah siap di serap madu nya oleh lebah lebah itu. Aku mendekati mu, lalu aku berkenalan dengan mu. Kita saling menunduk tersipu malu, wajah kita sungguh – sungguh lucu. Aku jadi semakin rindu oleh kasih mu.
“Seharus nya aku tidak sendiri di sini sekarang, aku masih belum buta sayang.. seharus nya kamu masih disini bersama ku. Aku masih ingat kecupan hangat bibir mu yang membekas sekali di bibir ku. Aku ingat aku ingat sayang.. tapi malaikat sudah bilang ini lah tiba waktu mu.. lalu.. aku harus berbuat apa kalau begini?.. apa aku harus ikut juga?, tidak menunggu malaikat datang, tapi aku yang akan buat hati malaikat datang karena aku yang menunggu mereka.. Tidak! Kenapa aku harus buru- buru, kenapa aku tidak meyakini saja, bahwa suatu saat aku akan bersua lagi dengan dirimu? Ya! Aku harus begitu.”, ucap ku sendiri.
Setelah 1 windu aku di sini, aku mulai kuat hidup tanpa mu. Aku mulai bisa tersenyum lagi, lalu membuka hati atas kepergian mu. Tapi aku tidak akan pernah melepaskan janji kita dulu, ikatan kasih ini tidak akan terpisah selamanya karena ruang dan waktu.
Aku pergi ke rumah mu, datang lalu menghampiri mu di sana sendiri. Aku bawa bunga melati, dan air dalam kendi. Di sana ada kenangan yang indah dan pahit ikut menjenguk diri mu, di sana ada tembang melodi mengalun – alun ikut menjamah dirimu, di sana ada dirimu dalam tanah yang kering sedang tidur tanpa mimpi. Aku merasa kan kau sedang memeluk erat diri ku, saat bunga – bunga ini ku tabur kan di atas rumah mu, aku merasa kau sedang memarahi ku, saat ku sedang menangis sedih mengingat diri mu. Di sana kunang – kunang dan jangkrik ikut menari seakan sedang mengikuti denting melodi kelabu dari piano – piano berdebu. Oh aku tau, cinta yang setia itu memang akan selalu berakhir di tempat ini. Untuk sekali lagi aku memeluk tanah ini, dan mencium batu yang bertuliskan nama lengkap mu, Maria Melati Suyati.. Aku rindu diri mu..

Lantunan Hati Besi

Serumpun ladang jerami berisi jarum
Derai gerobak keledai membawa bayang ku ke ujung ufuk
Bulan sabit pun sekarang tinggal ¼ bagiannya
Aku tua renta tanpa tulang, tinggal tunggu sang abadi menjemput..
Garis dan tali latar belakang hidup ku
Ku tunggu tali mana yang akan menutup luka ku
Tak ada seorang pun beri kain nya menutup koreng ini..
Ku muntah kan lidah – lidah bercabang dari usus ku
Yang muak tersayat karena berisi air keruh
Apakah aku harus tanam bunga matahari dalam mulut ku?
Agar rasa sakit ini sedikit terbawa angin, saat senyum lebar itu menghampiri ku
Tapi itu palsu! Hanya seperti coretan darah di dinding gubuk bambu ujung hutan itu..
Senyum mu pucat menderu – deru, wajah ku mulai membiru, gigi ini terasa di pagar besi, kepala ku berat seperti di timbuni domba domba gemuk
Aku menggigil di atas tanah merah yang tandus
Semakin lama waktu berlalu, aku berubah menjadi abu
Hujan datang dan menari di atas ku..

Oh indah nya saat melihat saat itu, gundukan tanah itu menjadi hijau kembali karena aku..

Bukit Edelweiss

“Hei kaki satu! Untuk apa kamu kesini? Disini bukan tempat mu, dasar ‘alien’ ” .. “hei lihat kencing mu pun sekarang menjadi tongkat es!” hahaha. Tertawaan dan bahan olokan setiap hari menjadi sarapan pagi, siang, sore, malam dan sepanjang waktu hidup ku. Aku ini terlahir tanpa kaki kanan. Aku tidak bisa menjelas kan nya mengapa tuhan begitu tidak adil saat menciptakan aku seperti ini. Mungkin dia sedang saat murka, ketika judas di surga merebut roti isi selai kacang nya, dan mungkin hari itu aku sedang dalam proses pembuatan, dan selama ini aku meng anggap ini sebuah kutukan. Sedikit sisi baik yang ku lihat, tuhan beri aku kesempatan hidup. Nama ku Vough donham dan aku senang ketika memakan buah berbiji satu, biji dalam buah itu pasti akan di buat nya sebuah alat – alat aneh, yang nanti nya akan di buat presentasi kepada daniel anjing golden ku tercinta. Aku tidak tahu, siapa yang mau berteman dan berbagi kasih dengan ku, yang ku tahu selama ini hanya ada ibu ku yang pemabuk dan ketergantungan obat penenang karena depresi yang dia derita, daniel anjing ku yang sering kali sebenarnya aku tidak mengerti karena selalu mencari perhatian ku, dan kaleng kaleng di kamar yang aku beri nama satu per satu dan aku beri mata telinga dan mulut juga hidung, yang selalu setia menemani ku.

Aku di sekolah kan di sekolah ternama, dengan mengandal kan beasiswa dan kakak ku yang berkerja paruh waktu setiap malam sepulang kuliah. Kakak ku bernama Vita, dia sangat baik. Namun tidak pernah mau berbicara dengan ku, saat teman – teman berjaket kulit dan ber-celana jeans penuh robekan robekan itu datang ke rumah untuk bermain band di garasi rumah kami. Aku selalu bercerita keluarga sangat akur, namun sebenernya bagi ku, aku lah sumber bencana dan nestapa keluarga ku. aku ingin membantu kakak ku, aku ingin normal, bisa berkenalan dengan yoxy, wanita yang paling cantik di sekolah ku dan teman nya weiss gadis imut, pintar, saingan ku di kelas yang selalu setia menemani yoxy kemana mana, aku juga ingin melawan George hoss, ketua base ball di fakultas ku yang selalu melempar spagethi sisa ke muka ku saat bertemu di lorong perpustakaan. Karena aku siswa pintar, suatu hari yoxy meminta ku untuk mengerjakan artikel bahasa jerman nya, dan aku mau. akhir nya aku terima pekerjaan itu, dan aku akan kerjakan malam ini juga demi Yoxy. Saat itu aku berpandangan dengan Weiss, dia manis juga. Terjebak di lorong itu membuat ku merasa sangat kecil, ketika mata – mata semua tertuju pada ku. Seorang bebek berlumpur, bisa bertemu dan bicara langsung dengan Yoxy dan Weiss yang sangat anggun itu.Saat perjalanan pulang, aku bertemu dengan George dan kawan – kawan. Mereka memukul kepala ku dengan tongkat baseball berbahan alumunium tersebut, darah mengucur dali pelipis mata ku. Tetapi aku tidak menangis, rasa sakit ini sudah sangat biasa bagi ku, namun rasa tidak berdaya ini membuat ku sangat – sangat ingin melawan keadaan ini. Lalu aku duduk di taman sekolah sambil membersihkan luka ku dengan air dan alkohol. “Ouchh..sakit”, rintih aku. Seseorang menyentuh luka ku, saat ku berbalik dan melihat nya Weiss di sana. Dengan tatapan nya yang polos, dan berkata, “Luka baru, ini luka pertama di pelipis mata mu!, ahahaha”, dia tertawa. Di keadaan sakit seperti ku apa dia akan tetap tertawa dan tersenyum?. Aku tidak tahu itu. Dia pun membantu ku membersih kan luka, dan membalut nya dengan kain kassa. Lalu di menunjuk ke arah sana, seakan memberi tahu arah pulang kepada ku, dan terlintas dalam mata ku sinar matahari menyinari Yoxy yang anggung sedang ngobrol asik dengan George dan kawan – kawan nya, aku tidak sadar saat itu. Dalam pikir ku hanya Yoxy yang cantik, dan aku sangat ingin memeluk nya dalam tubuh nya yang mungil di lindungi jaket bertulis kan Young Seigh College nama unversitas ku. Lalu Weiss berkata pada ku, “ kamu suka pada Yoxy ya?”. Aku tersipu malu, dan menjawab. “ya, dia sempurna weiss.. andai dia tahu ada pangeran kaki satu yang suka padanya apa dia akan menghampiri ku? Atau dia hanya akan membalikan muka dan memberi jawaban bahwa cinta ku bertepuk sebelah tangan?, sepertinya sih begitu..” . “jangan takut Vough, jangan malu, cobalah. namun aku beri tahu pada mu, dia suka laki – laki yang tangguh, yang pandai bermain base ball dan kuat berlari juga mengangkat nya saat dia tertidur di sofa saat menonton drama di tv” kata weiss pada ku. Seakan semua itu tidak ada pada diriku dan hanya ada pada diri George. “uhmm Weiss, apa kamu mau mengerjakan tugas artikel bahasa jerman ini untuk aku, aku ingin seperti George, aku tidak ingin jadi diriku saat ini. Aku ingin jadi bagian dalam hidup Yoxy.”, minta ku pada weiss. Aku lihat muka Weiss yang memelas, dia langsung mengulurkan tangan nya membantu ku berdiri, dan mengambil kan tongkat yang biasa nya membantu ku berjalan. Lalu dia bilang, “ baiklah, ini untuk hari ini Vough, lain kali aku tidak mau lagi..” . sungguh baik nya Weiss hari itu. Beruntung Yoxy punya sahabat seperti Weiss, yang akan selalu membantu di saat susah. Sesampai nya di rumah aku berbicara dengan Daniel, anjing golden ku. “Daniel, aku ingin menaklukan Yoxy, agar semua mata tertuju pada ku. Ketika aku berjalan dengan nya, dan berciuman di tengah lapangan besok, bantu aku ya.. besok aku akan melawan George untuk itu” , dan Daniel hanya menguap memberi tanda, “jangan Vough! Itu buang – buang waktu!”. Seperti itu yang kudengar dari mulut nya. Aku pun mengacuh kan nya, berlatih dengan samsak rumah ku, memukul nya, membayang kan bahwa itu George yang sedang tersenyum sambil memakan spagheti saus tomat. Aku menghajar nya, hajar terus, sampai mampus.Tiba nya hari penentuan itu, aku berkelahi dengan George, aku menang walaupun luka dan darah menyertai aku. Aku hanya ingin tunjukan bahwa aku mampu, aku ingin tunjukan ke Yoxy bahwa aku bisa. Namun Yoxy tidak bergeming seperti acuh atas semua yang sudah kuperoleh, aku kesal karena itu. Dan aku malah di balas nya dengan di perlihat kan kemesraan Yoxy dan George ketika Yoxy menolong George yang penuh luka darah itu. Semua orang malah menjauhi ku, semua tidak ada yang suka pada ku, aku tidak mengerti mengapa semua ini terjadi pada ku. Aku seperti dalam ambang kesunyian di ruang tanpa grafitasi bumi, dan aku terjebak dalam lempengan itu. Aku merasa sedang dalam mulut Daniel yang bau amis, penuh dengan tulang dan daging ikan yang menyelip di antara gigi seri dan gigi taring nya. Aku muak atas semua ini, lalu aku pergi ke ujung bukit Edelweiss. Menurut dongeng yang kudengar, di atas bukit itu ada penyihir cantik yang akan tunjukan kita akan cinta sejati kita, dimana kita akan mengetahui nilai – nilai kehidupan kita, penyihir itu akan ajari kita mencintai dan mengasihi, namun untuk mencapai bukit tertinggi itu, butuh pengorbanan dengan satu kaki ini. Aku tidak akan mampu meraih nya dengan kaki ini, namun aku laki laki yang butuh cinta, aku ingin mencintai dan di cintai seseorang. Oleh karena itu, hal – hal kecil seperti itu menjadi motivasi ku, seperti keledai yang di pancing makanan di atas kepala nya dan aku akan terus melaju sampai makanan itu tiba tepat di mulut ku. Batu – batu curam menghalangi langkah ku, licin nya batu itu karena lumut dan gerimis membuat ku merasa sangat membeku di atas sana. Aku tetap melangkah tegar saat itu, saat dalam perjalan ku menuju bukit itu, hanya Weiss yang manis yang ku pikir kan. Dia lah orang yang tepat untuk ku, untuk ku beri cinta terdalam ku. Motivasi untuk bertemu penyihir itu semakin terpaku dalam otak ku, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk cinta sejati ku, hanya itu. Dan aku pun sampai dalam puncak bukit itu, ketika tak ada satu orang pun di sana selain aku, tak ada penyihir manis, hanya ada aku dan bunga Edelweiss yang bersinar memekar harum di atas sana. Ku petik saja bunga itu dan jaga erat di tangan kanan ku, lalu aku dengan tangisan gembira melangkah menuruni bukit itu, sambil membayangkan aku dan Weiss sedang di atas bukit penuh bunga itu, duduk di musik semi melihat bunga itu mekar di sekeliling kami. Cinta itu indah sekali, satu kata itu yang membuat senyum wanita manis itu selalu terbenak di pikir ku. “Aku cinta kamu, Weiss” , kata itu sudah terbenak di mulut ku. Aku ingin katakan itu ke pada Weiss. “Aaahhhh....” “Vough! Bangun! Bangun!, kamu tidak apa kan? Ayo bangun!”, “Vough, ayo bangun aku cemas akan kamu.. mengapa kamu begitu memaksakan diri, aku cinta kamu Vough, kamu tidak pernah sadar itu!”.Kudengar ada yang berteriak seperti itu, aku habis tidur pulas, dan mungkin sekarang aku sekarat, seperti burung yang sudah kehilangan kedua sayap nya. Aku mencoba membuka mata ku, dan ku lihat... Weiss di situ, dia tersenyum sambil mencium kedua tangan ku, aku pun menangis gembira karena kehadiran weiss di situ. “Weiss, maaf kan aku selama ini, Aku cinta pada mu” , kata – kata itu jadi 10 kata terakhir dalam hidup ku, 10 kata terakhir dalam hidup ku yang penuh ketidak puasaan akan cinta. Dan sekarang aku menemukan cinta itu, Weiss dalam diri Weiss. Aku tidak mau menyia- nyiakan nya. Aku akan berjanji menjaga Weiss selalu seperti saat aku menjaga bunga Edelweiss itu di tangan ku.

Sabtu, 24 Juli 2010

Eksperimen Lisa

Lisa, apa engkau yang berdiri di penghujung ufuk itu?
Kenapa kita serupa?, Lisa.. Ayo jelas kan!
Aku tidak pernah ingat ini, aku rasa tidak pernah menjadi eksperimen profesor berbulu itu.
kenapa aku dua? Ini benar - benar serupa..
Ini seperti sigmatisme rupa manusia dan kau membuat elipsis serayak film - film horor yang sembunyikan teka - teki nya. Tapi kau berbohong Lisa! kau bukan aku.
kalau pun ini cermin, mengapa gerakan mu tak serupa dengan ku?
Kau menakutkan! aku benci kamu.

Aku pun acuh kan dirimu selama berbulan - bulan, namun aku menjadi sakit. Aku masuk kembali ke dalam selimut bulu domba ku. Aku pergi ke lautan khayal ku dan melompati awan - awan senja itu,,....
Aku berburu,...
Aku tak jemu,....
Dimana kamu?,...

Lisa!!!!!! Lisa!!!!

Ya sudah lah aku terbiasa bersamamu, sekarang kamu pergi bersama kereta kabut.
Aku juga tidak butuh kamu!, Aku akan tetap menjadi Asil yang dulu tanpa Lisa yang semu.
sekarang aku mau berendam di lautan horizon yang tenang,..
lalu aku bermain dalam terumbu karang,..
"Ikan pari! mari berenang!"

Asil ya tetap Asil..

saya tidak berusaha menggurui, saya hanya mau meluapkan apa yang ada di hati saya..
mungkin ini sungguh surealis, tapi aku tak mau menilai ini.. biar kalian yang menilai masing - masing menurut hati dan pikiran kalian.
terimakasih.. :D

Kamis, 22 Juli 2010

Junior

"ROINUJ"

Ih..Ahh.. Diam!

Kau berdusta lagi,... bayar aku! sekarang!
3 jam kita di bilik ini, kamu buat ku merasa percuma
kamu yang berdusta, aku yang rasa pahit nya.
Hei! aku tidak peduli!
Bayar aku..

Junior sedang asik dalam perut ku
dia bisikan jiwa nya ke paman indra pendengar
Sedang melukis kemolekan pegunungan dalam perut ku.

Aaaahhhh... DIA HENTAK!, KUAT!, TEGAR!
tidak seperti aku.
Atmosphere nya, terasa kuat sekali.
seperti bima sakti sedang murka
dan ingin merobek lubang hitam ini.

Aku, dan Junior
Ini lah tiba waktu ku.

1 Banding 1000

Ah! tiba aku pada titik itu
Angin memukul wajah ku
dan mendadak usai membisu
seperti batu

Kembali! Ayo kembali! tanah ini rapuh
teriak seribu orang di belakang ku
hati ku ricuh, seperti binasa di depan mata ku
semut datang, lalu berkata pada diri ku

"Menetaplah, kami butuh kamu..
hei kau yang termenung di situ."
sekarang aku ragu
inilah 1 banding 1000

"Pergilah! aku akan menetap di sini,
ku kan melambung dan mencoba tetap berdiri"
"Pergilah! kan ku buat tanah ini menari,
dan hijau-lah semua rekayasa ini."

Aku pun tertidur
tidak ada peri yang ikut berbaur
tak ada bahagia,
Semua hanya rekayasa?

coba kalian artikan ini menurut pikiran kalian masing - masing.. sebenar nya apa maksud dari sang penulis? terima kasih.